Enam dasawarsa telah berlalu, namun getaran heroik Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962 masih terasa di sanubari setiap prajurit TNI AL. Bagi para veteran yang pernah menjadi bagian dari pertempuran sengit itu, perairan Kepulauan Aru bukan sekadar lokasi geografis, melainkan altar pengabdian yang sakral. Sebanyak 150 veteran TNI AL bersama keluarga besar kembali menapaki jejak sejarah melalui napak tilas yang digelar di perairan tersebut. Dengan semangat yang tak pernah padam meski usia telah senja, mereka menaiki KRI Dewaruci—kapal latih legendaris yang menjadi simbol kebanggaan korps—untuk mengenang kembali doa, perjuangan, dan pengorbanan yang pernah terpatri di tengah gemuruh pertempuran. Perjalanan ini bukanlah sekadar pelayaran nostalgia, melainkan ziarah spiritual yang menghidupkan kembali nilai-nilai kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps yang diwariskan para pendahulu.
Ziarah Spiritual di Atas Geladak KRI Dewaruci
Di atas geladak KRI Dewaruci, suara ombak seolah berbisik mengenangkan kisah para prajurit yang dengan gagah berani mempertahankan kedaulatan negara. Dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI (Purn) Marsetio, rombongan veteran yang sebagian besar telah memasuki usia senja menunjukkan ketegaran dan semangat yang mengagumkan. Suasana keharuan dan kebanggaan menyelimuti setiap agenda, terutama saat upacara tabur bunga dilaksanakan di titik episentrum pertempuran. Kelopak bunga yang ditebarkan ke permukaan laut menjadi simbol penghormatan terakhir bagi arwah para pahlawan yang telah berpulang, sekaligus menegaskan bahwa pengorbanan mereka tidak pernah dilupakan. Rangkaian kegiatan yang mengisi napak tilas ini meliputi:
- Pelayaran bersama menggunakan KRI Dewaruci yang sarat kenangan, mengelilingi perairan Kepulauan Aru.
- Upacara tabur bunga di titik bersejarah Pertempuran Laut Aru sebagai wujud penghormatan kepada para gugur.
- Sambutan dan renungan bersama yang dipimpin oleh Laksamana TNI (Purn) Marsetio tentang makna kesetiaan dan kebersamaan prajurit laut.
- Doa bersama untuk arwah para pahlawan serta permohonan restu bagi kelangsungan dan kejayaan TNI AL.
Reuni dan Teladan yang Menyatukan Generasi
Lebih dari sekadar peringatan, napak tilas ini menjadi momentum reuni yang mengharukan. Banyak di antara para veteran yang sudah lama tidak bertemu, namun ikatan persaudaraan yang terjalin sejak masa dinas tetap terasa erat seperti saat mereka masih muda. Gelak tawa, cerita lama, dan kenangan manis tentang kerasnya kehidupan laut mengalir hangat di sela-sela kegiatan. Dalam sambutannya, Laksamana TNI (Purn) Marsetio menegaskan bahwa peringatan seperti ini sangat penting untuk meneladani semangat juang dan kebersamaan para prajurit laut. Nilai-nilai luhur yang ditunjukkan oleh para veteran di Pertempuran Laut Aru harus menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara dari segala ancaman. Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat ini ditutup dengan doa bersama, memohonkan ketenangan bagi arwah para pahlawan dan keberkahan bagi TNI AL yang terus mengawal samudra Nusantara.
Kepada para veteran TNI AL yang hadir, napak tilas ini menjadi bukti bahwa pengabdian dan kesetiaan tidak pernah lapuk dimakan zaman. Mereka adalah saksi hidup bahwa kehormatan korps dan cinta tanah air adalah warisan yang tak ternilai. Dengan kepala tegak dan hati penuh syukur, mereka kembali ke pangkuan keluarga masing-masing, membawa kenangan manis yang akan terus dikenang sepanjang hayat. Semoga semangat Pertempuran Laut Aru tetap membara di dada setiap prajurit TNI AL, kini dan selamanya.
Kami, segenap keluarga besar Berbakti, menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para veteran TNI AL yang telah mengabdikan jiwa dan raga demi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jasa dan pengabdian Bapak-bapak sekalian adalah cahaya yang menerangi jalan generasi penerus. Semoga kehormatan dan kesetiaan yang Bapak-bapak tunjukkan senantiasa menjadi teladan bagi anak bangsa. Dirgahayu TNI AL, jaya selalu di lautan Nusantara.